MPD ( Mekanisme Pertahanan Diri)

Habis Chat sama Yayank, Saya jadi teringat dulu ketika masih di kawah candradimuka, diajari apa yang namanya Mekanisme Pembelaan Diri (sering disingkat dengan MPD).

Self Defence Mechanism – Alat Pelindung Psikis

Dalam ilmu psikologi Self Defence Mechanism adalah proses mental dari pembohongan-diri untuk mengurangi pikiran yang mencemaskan, kenangan buruk atau keadaan yang mengancam ego seseorang.

Perasaan khawatir adalah insting normal terhadap adanya ancaman. Adrenalin yang meningkat, perasaan selalu siap siaga dan jantung yang berdebar sebenarnya insting untuk mempertahankan diri untuk survive. Namun kekhawatiran yang berkepanjangan akan menyebabkan tubuh lelah, meningkat menjadi cemas dan dapat menimbulkan stress. Dan stress adalah pemicu penyakit psikosomatis.

Maka Self Defense Mechanism adalah sistem penipuan pikiran yang berfungsi meredakan kekhawatiran dan stress dengan cara pengalihan. Beberapa diantaranya yang popular antara lain :

Tingkat Neurotic – Multiple Personality Disorder

Lolita, seorang Ibu merasa sangat lelah menghadapi 3 orang anak lelaki yang sangat nakal. Suami selalu pulang malam dan krisis yang menghadang sedikit mengganggu perekonomian rumah tangga. Saat ke psikolog, dalam kondisi hipnotis Ia dipersilakan mengatakan apapun. Tiba-tiba Ia mengaku menjadi seorang single bernama Tika, tinggal di apartemen dan mengaku pernah mengenal seseorang bernama Lolita. Ia mengatakan kasihan dengan hidup Lolita dan menghabiskan sesi hipnotis menjelek-jelekkan suami Lolita.

Psikolog mengkhawatirkan bahwa karakter Tika akan menguat mengalahkan Lolita, dan dengan tekanan Tika akan mengambil alih tubuh Surti untuk melarikan diri ke suatu kota, berganti nama menjadi Tika dan melupakan Lolita di pojok gelap psikologi sebagai sebuah kenangan buruk yang harus segera dihapus. Self Defence Mechanism secara ekstrem bekerja melindungi tubuh dari trauma sebagai Lolita dan mengembangkan impian terpendam sebagai Tika yang terkekang norma untuk mengambil alih tubuh Lolita.

Tingkat Normal – Represi, Rasionalisasi, Displacement, Projection

1. Represi merupakan DM (Defence Mechanism) yang paling sering dilakukan. Pikiran melakukan blok terhadap kenangan buruk, mengalihkannya pada hal-hal yang menyenangkan. Tanpa represi seseorang yang putus cinta akan sakit hati berbulan-bulan. Seseorang yang fungsi represinya terganggu seringkali membutuhkan obat untuk represi. Istilah ini disebut dengan Supression (pemaksaan represi menggunakan media bantu)
2. Projection, yaitu mengarahkan emosi kepada orang lain. Seringkali saat kita merasa jengkel atau marah ketika menjumpai orang lain yang sedang stress dalam pekerjaannya yang tidak mengacuhkan kita, kemudian kita pun langsung memberikan tuduhan bahwa orang itu marah terhadap kita karena saat diajak berbicara tidak merespon.
3. Rasionalisasi, yaitu melakukan alasan atau pembenaran terhadap kegagalan atau suatu hal yang tidak dicapai untuk mencegah perasaan kecewa berkepanjangan. Seseorang yang putus cinta dengan pasangan yang menurutnya sempurna seringkali menjalin hubungan dengan orang yang secara kualitas jauh dibawah mantannya untuk menghindari sakit hati. Atau contoh lain yang sering kita alami misalnya : ketika kita melihat ada anak muda jadi pengusaha kaya, kita kerap menyimpulkan langsung bahwa dia pasti anak pengusaha. Ketika ada pejabat kaya, tuduhan langsung adalah pasti korupsi. Sebuah pembenaran bahwa tidak menjadi pengusaha muda atau pejabat kaya adalah hanya karena bukan anak pengusaha atau tidak korupsi.
4. Displacement. Pernahkah Anda melihat blog yang berisi tulisan-tulisan mengenai sumpah serapah, blog berisi puisi cinta mati, atau perahkah Anda mendengar ada seseorang yang pergi meninggalkan pekerjaan untuk berkelana keliling dunia? Itu adalah sebuah Displacement, memindahkan energi amarah dan cemas ke dalam aktivitas lain sebagai penyaluran.

Self Defence Mechanism adalah sebuah disiplin dalam ilmu psikoanalisa yang dikembangkan oleh Sigmund Freud. Bukan hanya psikolog, tapi Anda pun bisa mempelajari ini untuk memahami perilaku orang-orang di sekitar anda dan mencoba berempati saat mereka terpaksa melakukan ini. Ketika timbul suatu dorongan atau kebutuhan, manusia yang normal akan cenderung untuk menghilangkan atau mengurangi tingkat ketegangan tersebut dengan memenuhi kebutuhan-kebutuhan seperlunya. Dalam beberapa hal, karena berbagai alasan kebutuhan-kebutuhan tersebut tidak dapat dipenuhi, akibatnya ia harus belajar untuk mengganti objek yang diinginkannya tersebut agar ketegangan tersebut dapat menurun atau hilang dalam dirinya (Defense Mechanism)

Freud menyebutnya defense mechanism sebagai strategi yang tidak disadari yang digunakan oleh orang untuk mengatasi emosi negatif. Strategi terfokus hanya pada emosi itu tidak mengubah situasi stres, mereka semata-mata mengubah cara orang menghayati atau memikirkan situasi. Jadi, semua mekanisme pertahanan melibatkan suatu elemen penipuan diri (self-deception)

Kita semua menggunakan mekanisme pertahanan ini untuk membantu kita mengatasi stres sampai kita dapat menghadapinya secara langsung. Mekanisme pertahanan menyatakan gangguan penyesuaian kepribadian (personality maladjustment) hanya jika menjadi cara dominan menanggapi masalah. Salah satu perbedaan antara mekanisme pertahanan dan strategi pemecahan masalah adalah merupakan proses yang tidak disadari, sedangkan strategi mengatasi masalah seringkali dilakukan secara sadar. Maka bila mekanisme ini dilakukan secara ekstrim dapat menyebabkan strategi pemecahan masalah secara sadar akan menjadi maladaptif.

Beberapa bentuk mekanisme pertahanan:

(1). Represi

Freud menganggap bahwa represi sebagai mekanisme pertahanan yang paling dasar dan yang paling penting. Dalam represi, impuls atau memori yang terlalu menakutkan atau menyakitkan dikeluarkan dari kesadaran. Memori yang menimbulkan rasa malu, bersalah, atau mencela diri, seringkali direpresi. Freud yakin bahwa represi impuls masa kanak-kanak tertentu terjadi secara universal.

Represi dijelaskan oleh Freud pada konflik oedipus, dimana anak laki-laki mengalami ketertarikan seksual pada ibunya dan menimbulkan persaingan dan permusuhan kepada ayahnya. seiring pertumbuhan, impuls tersebut direpresi untuk menghindari konsekuensi menyakitkan jika mewujudkan impuls tersebut. Pada perkembangan selanjutnya, perasaan permusuhan terhadap orang yang dicintai dan pengalaman kegagalan perlu dihapus dari memori sadar.

Represi berbeda dari supresi, Supresi adalah proses melepaskan kendali diri, mempertahankan impuls dan keinginan secara terkendali (menahan impuls tersebut secara pribadi sementara menyangkalnya di hadapan publik) atau secara sementara menyingkirkan memori yang menyakitkan. Individu menyadari pikiran yang disupresi tetapi sebagian besar tidak menyadari impuls atau memori yang direpresi.

Freud yakin bahwa represi jarang berhasil sepenuhnya, impuls yang direpresi mengancam masuk ke kesadaran; individu menjadi cemas (walaupun tidak menyadari alasannya) dan menggunakan beberapa mekanisme lain untuk mempertahankan impuls yang direpresi agar tidak masuk ke kesadaran.

Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahawa orang dengan gaya represif tampaknya memiliki kerentanan yang lebih tinggi terhadap penyakit pada umunya, termasuk lebih sering mengalami penyakit jantung koroner dan perjalanan penyakit kanker yang lebih cepat. (Bonnano & Singer, 1990). Riset lain membuktikan bahwa orang yang menceritakan kepada orang lain tentang peristiwa traumatik dan emosi yang mereka alami sebagai reaksi terhadap peristiwa tersebut cenderung menunjukkan kesehatan yang lebih baik dibandingkan dengan orang tidak terbuka kepada orang lain (Pennebaker & Beall, 1986). Sebagai contoh, istri yang suaminya meninggal akibat bunuh diri lebih mungkin mengalami penyakit fisik selama bertahun-tahun setelah kematian suaminya jika mereka tidak pernah menceritakan kepada orang lain bahwa suaminya melakukan bunuh diri (Pennebaker & O’Heeron, 1984).

(2). Rasionalisasi

Rasionalisasi bukanlah berarti “bertindak secara rasional”, rasionalisasi adalah motif yang dapat diterima secara logika atau sosial yang dilakukan sedemikian rupa sehingga kita tampaknya berindak secara rasional. Rasionalisasi mempunyai dua fungsi: menghilangkan kekecewaan saat kita gagal mencapai tujuan dan memberikan motif ayng dapat diterima atas perilaku kita.

Saat mencari alasan baik ketimbang alasan sesungguhnya, orang sering membuat sejumlah dalih. Dalih tersebut biasanya masuk akal; hanya saja mereka tidak menceritakan keseluruhan cerita. Sebagai contoh; Seseorang yang gagal mengikuti ujian, “Kawan sekamar saya tidak membangunkan saya.” Alasan tersebut mungkin saja benar tetapi bukan merupakan alasan sesungguhnya atas kegagalan seseorang melakukan perilaku yang dimaksud. Individu yang benar-benar peduli akan memasang alarm jam atau meluangkan waktunya.

(3). Pembentukan Reaksi

Sebagian individu dapat mengungkapkan suatu motif bagi dirinya sendiri dengan memberikan ekspresi kuat pada motif yang berlawanan. Kecenderungan ini dinamakan pembentukan reaksi. Seorang ibu yang merasa bersalah karena ketidakinginannya mempunyai anak mungkin menjadi terlalu memperhatikan dan terlalu protektif untuk meyakinkan anak akan cintanya dan meyakinkan dirinya bahwa ia adalah ibu yang baik.

Sebagian orang yang berperang dengan semangat fanatik untuk melawan kekenduran moral, alkohol dan perjudian mungkin manifestasi pembentukan reaksi. Sebagianindividu tersebut mungkin memiliki latar belakang sulit dengan masalah tersebut dan mungkin merupakan cara untuk melindungi diri mereka sendiri terhadap kemungkinan kembali pada kebiasaan lama.

(4). Proyeksi

Semua orang memiliki sifat yang tidak diinginkan yang tidak kita akui, bahkan oleh diri sendiri. Salah satu mekanisme bawah sadar, proyeksi, melindungi kita dari mengetahui kualitas diri kita yang tidak layak dengan menampakan sifat itu secara berlebihan pada diri orang lain.

Contoh; misalkan Anda adalah seorang yang cenderung suka mengkritik atau tidak ramah pada orang lain tetapi Anda tidak mau mengakui kecenderungan itu. Jika Anda memperlakukan orang lain secara kasar, bukan berdasarkan kualitas buruk diri, Anda mengatakannya sebgai, “memberi mereka perlakuan yang pantas”. Proyeksi merupakan suatu bentuk rasionalisasi yang meresap dalam kultur kita, mekanisme ini terjadi secara begitu saja menempatkan sifat-sifat batin sendiri pada obyek di luar diri, sehingga sifat-sifat batin itu dihayati sebagai sifat-sfat orang lain diluar dirinya. Misalkan, seseorang yang membenci orang lain, tetapi ia menghayati orang lain itulah yang membenci kepadanya. Kultur melarang orang membenci orang lain.

(5). Intelektualisasi

Intelektualisasi adalah upaya melepaskan diri dari situasi stres dengan menghadapinya menggunakan istilah-istilah yang abstrak dan intelektual. Jenis pertahanan ini seringkali diperlukan oleh orang yang harus menghadapi masalah hidup dan mati dalam pekerjaannya. Dokter yang terus menerus berhadapan dengan penderitaan manusia tidak dapat berusaha untuk terlibat secara emosional dengan tiap pasiennya. Faktanya, suatu pembebasan (detachment) mungkin penting bagi dokter agar dapat berfungsi secara kompeten. Jenis intelektualisasi ini baru menjadi masalah jika ia menjadi gaya hidup yang meresap sehingga individu memutuskan dirinya dari semua pengalaman emosional.

(6). Penyangkalan

Jika realita eksternal terlalu tidak menyenangkan untuk dihadapi, orang dapat menyangkal terjadinya realita tersebut. Orangtua dari anak yang menderita penyakit mematikan mungkin menolak mengakui anaknya menderita penyakit serius, walaupun mereka telah mendapatkan informasi lengkap tentang diagnosa dan kemungkinan penyakitnya. Mereka tidak dapat mentoleransi kepedihan karena mengetahui realita, mereka menggunakan mekanisme pertahanan penyangkalan (denial). Bentuk penyakalan yang kurang ekstrim dapat ditemukan pada individu yang secara terus menerus mengabaikan kritik, tidak merasa orang lain marah kepada dirinya, atau membuang semua tanda yang menyatakan bahwa pasangannya berselingkuh.

Kadang menyangkal fakta mungkin lebih baik dibandingkan dengan menghadapinya. Pada krisis yang parah, penyangkalan memberikan waktu kepada orang untuk menghadapi fakta buruk dengan kecepatan yang lebih bertahap. Sebagai contoh, penderita stroke dan medula spinalis mungkin akan menyerah sama sekali jika mereka mengetahui sepenuhnya keseriusan kondisi mereka. Harapan memberikan mereka insentif untuk terus mencoba. Contoh lain adalah tentara yang menghadapi peperangan, penyangkalan kemungkinan mati membantu mereka untuk terus bekerja.

Pada situasi tersebut, penyangkalan jelas memiliki nilai adaptif. Di lain pihak, aspek negatif dari penyakalan menjadi jelas jika orang menunda-nunda mencari bantuan medis, seorang wanita meungkin menyangkal bila suatu ketika ia menemukan sebuah benjolan pada payudaranya sebagai suatu kemungkinan kanker dan dengan demikian terlambat menghubungi dokter.

(7). Pengalihan

Melalui mekanisme pengalihan (displacement), suatu motif yang tidak dapat dipuaskan dalam suatu bentuk diarahkan ke saluran lain. Contoh dari pengalihan adalah kemarahan yang tidak dapat diekspresikan kepada sumber frustrasi dan diarahkan ke pada obyek yang kurang mengancam.

Freud merasa bahwa pengalihan merupakan cara yang paling memuasakn untuk menangangani impuls agresif atau seksual. Dorongan dasar tidak dapat diubah, tetapi kita dapat mengubah obyek yang menjadi tujuan dorongan itu.

Impuls erotik yang tidak dapat langsung di ekspresikan dapat diekspresikan secara tidak langsung dalam aktivitas kreatif seperti seni, puisi dan musik. Impuls permusuhan mungkin menemukan ekspresi yang diterima secara sosial dengan peran serta dalam olahraga kontak.

Kecil kemungkinan pengalihan dapat menghilangkan impuls yang mengalami frustrasi akan tetapi aktiitas pengganti dapat membantu menurunkan ketegangan saat dorongan dasar terancam. Sebagai contohnya, aktivitas merawat orang lain atau mencari persahabatan dapat membantu menurunkan ketegangan yang berhubungan sosial yang tidak terpuaskan.

~ by dufta on July 8, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: